Kata Mubazir dan Kata Jenuh: Hindari Saat Menulis!
Kata Mubazir dan Kata Jenuh harus dihindari saat menulis berita atau artikel untuk media massa. Hal itu agar tulisan menjadi ringkas, efektif, dan memenuhi standar bahasa jurnalistik. Jika Kata Mubazir dan Kata Jenuh masih digunakan, maka terjadi pemborosan kata atau kalimat –hal tabu bagi jurnalis profesional.Kata Mubazir yaitu kata-kata yang sebenarnya dapat dihilangkan dari kalimat, seperti “adalah” (kata kopula), “telah” (petunjuk masa lampau), “untuk” (sebagai terjemahan to dalam bahasa Inggris), “dari” (sebagai terjemahan of dalam bahasa Inggris), “bahwa” (sebagai kata sambung), dan bentuk jamak yang tidak perlu diulang.
- Ia adalah seorang dokter –> Ia seorang dokter.
- Ia telah menikah setahun lalu –> Ia menikah setahun lalu.
- Ia berupaya untuk menjadi dokter teladan –> Ia berupaya menjadi dokter teladan.
- Bapak dari dua anak ini –> Bapak dua anak ini.
- Ia mengatakan bahwa anaknya memang bersalah –> Ia mengatakan anaknya memang bersalah.
- Banyak teman-temannya yang terharu –> Banyak temannya yang terharu.
- Acara dilaksanakan pada hari Minggu sore tanggal 11 Januari 2012 –> Acara dilaksanakan Minggu sore, 11 Januari 2012 (lebih hemat kata/efektif).
- Itu ditemukan pada tahun 1969 –> Itu ditemukan tahun 1969.
- Harga BBM mulai naik pada bulan Januari 2013 –> Harga BBM mulai naik Januari 2013.
- Mahasiswa dan polisi bentrok dalam aksi demonstrasi yang bertempat di Bundaran HI –>Mahasiswa dan polisi bentrok dalam aksi demonstrasi di Bundaran HI –>
Kata jenuh yang paling sering muncul dalam tulisan wartawan adalah kata “Sementara Itu”. Lazim ditemukan dalam peralihan berita dari peristiwa satu ke peristiwa lain. Misalnya, dari berita tentang Liga Inggris ke berita tentang Liga Italia. Untuk menyambungkannya yang paling sering digunakan Kata Jenuh seperti “Sementara itu”.
Wartawan NBC News, Edwin Newman, mengatakan, ketika mempelajari berbagai naskah yang ditulisnya pada awal-awal dia menjadi koresponden, dia mencoret setiap kata “sementara itu” dan mendapatinya tidak satu pun dari kata itu diperlukan.
Mantan Pemred Republika, Parni Hadi, dalam sebuah acara talkshow di TVRI mengatakan, masih banyaknya tulisan wartawan yang menggunakan kata mubazir dan kata jenuh akibat salah satu dari dua hal: kebodohan (ketidaktahuan) atau kemalasan. Lebih parah, jika akibat keduanya –bodoh dan malas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar