Profesi

Foto saya
Bengkulu, Bengkulu, Indonesia

Selasa, 25 Desember 2012

Praktisi Humas Wajib Bisa Menulis



Praktisi Humas Wajib Bisa Menulis

Peran penting petugas humas (public relation officer) di sebuah lembaga membuatnya harus memiliki keterampilan khusus dalam berkomunikasi. Keterampilan pertama yang wajib dimiliki humas adalah menulis. Jadi, manajer dan/atau staf humas wajib bisa menulis!
Writing is the number one skill of PR practitioners,” kata Craig Pearce dalam blognya, craigpearce.info. Bahkan, “It’s more important than being a nice person. Seriously.” Keterampilan menulis lebih penting ketimbang jadi “orang baik”.
“Tidak ada PR tanpa keterampilan menulis,” imbuh Todd Hunt.
Berikut ini lima keterampilan utama yang harus dimiliki petugas humas/PR (Top 5 PR Skill) sebagaimana dikemukakan Pete Codella dalam blognya, petecodella.com.
Ia menyebutnya sebagai “a short list of … the most in-demand and important skills are for public relations practitioners” (daftar singkat … keterampilan dan tuntutan paling penting untuk praktisi humas).
  1. Writing –Praktisi humas harus terampil menulis dengan baik –dari segi substansi dan tata bahasa. Publik saat ini tidak hanya bergantung pada wartawan atau media massa untuk mengakses informasi. Mereka juga sudah menjadikan media sosial –facebook, twitter—sebagai sarana komunikasi dan bertukar informasi.
  2. Kreativitas –kompleksitas saluran komunikasi saat ini, dan banyaknya informasi yang setiap membombardir kita, menuntut para komunikator profesional untuk menjadi kreatif dalam mengemas dan menyampaikan pesan.
  3. Menguasai ‘Publishing Tools’ –internet dan alat-alat media sosial menjadikan praktisi humas “kebanjiran” sarana komunikasi. Praktisi humas saat ini mesti akrab dengan berbagai saluran komunikasi tradisional dan digital untuk mengidentifikasi kesempatan terbaik bagi klien dan employer mereka.
  4. Profesionalisme –nilai-nilai inti advokasi, kejujuran, keahlian, kemandirian, kesetiaan, dan keadilan adalah penting bagi para praktisi humas yang serius. Tahun 2000 Public Relations Society of America (PRSA) menerbitkan kode etik humas yang menguraikan enam nilai inti serta prinsip-prinsip inti etika humas. (Untuk humas Indonesia: menaati kode etik kehumasan).
  5. Personable –Menarik, Menawan. Berlaku baik kepada orang-orang (good with people). Profesi humas membutuhkan orang-orang “pemersatu” (uniters), bukan “pemisah” (dividers), mendorong komunikasi yang lebih baik di dunia kita yang terkadang “konfrontatif”. Dalam kata-kata Michael Jackson, PR/humas membutuhkan pekerja yang akan setuju dengan pernyataannya: ““I’m a lover, not a fighter”.

Dasar-Dasar Public Speaking



Dasar-Dasar Public Speaking

* Tips Menjadi Pembicara, Teknik Pidato
Public Speaking  dipahami sebagai berbicara di depan umum, seperti ceramah atau pidato dan presentasi. Public Speaking mencakup semua aktivitas berbicara (komunikasi lisan) di depan orang banyak, termasuk dalam rapat, membawakan acara (jadi MC), presentasi, diskusi, briefing, atau mengajar di kelas.
Presenter TV dan penyair radio termasuk melakukan PS dilihat dari sisi jumlah audience yang banyak (publik), meskipun tidak face to face.
Untuk menjadi “pembicara hebat” (great public speaker) dapat dilakukan dengan dua cara, yakni:
1. Practice –Latihan pidato di depan kawan-kawan, keluarga, bahkan anjing/kucing, atau siapa saja yang bisa mendengarkan; di depan cermin; menggunakan recorder.
2. Building Skill –membangun keterampilan PS dengan memahami teknik PS, meliputi persiapan dan penyampaian.
PERSIAPAN
Persiapan Mental
1. Rileks! Atasi gugup dengan menarik nafas panjang/dalam; menggerakan badan; berdiri tegak layaknya tentara berbaris dengan bahu dan dada yang tegap, lalu tersenyumlah!
2. Know the room! Jadikan seakan-akan ia kamar Anda sendiri.
3. Know the audience! Kenali karakteristik dan pandang mereka sebagai teman akrab.
4. Know your material! Anggaplah Anda yang paling tahu.

Persiapan Fisik
1. Pastikan kondisi badan dan suara fit, segar, dan normal
2. Kenakan pakaian yang serasi dengan susana acara.
3. Jangan memakan keju, mentega, atau minum susu, soda, teh, kopi, sekurang-kurangnya sejam sebelum tampil.
4. Jabatlah tangan Anda agar darah mengalir — membuat gerakan tangan Anda lebih alami saat berbicara di podium.
5. Jaga agar mulut dan tenggorokan Anda tetap basah. Siapkan selalu air mineral.

Persiapan Materi
1. Baca literatur dan cari sumber data sebanyak mungkin. Semakin banyak pengetahuan dan wawasan, Anda pun kian percaya diri.
2. Susun pointer atau outline.
3. Anda punya empat pilihan penguasaan materi: Membaca naskah (Reading from complete text), menggunakan catatan (Using notes) berupa garis besar materi (outline) –ini cara terbaik, menggunakan hapalan (memory) –pilihan terburuk karena komunikasi dengan audience berkurang, terutama soal kontak mata; dan menggunakan alat bantu visual sebagai catatan (Using Visual Aids as Notes).

PEMBUKAAN: TEKNIK MEMBUKA PIDATO
1. Start Low and Slow
2. Don’t apologize.
3. Teknik pembuka a.l. langsung menyebut pokok persoalan yang akan dibicarakan; mengajukan pertanyaan provokatif, menyatakan kutipan — teori, ungkapan, peristiwa, atau pepatah.

PENYAMPAIAN
1. Teknik pemaparan: deduktif – gagasan utama ke perincian; “teori” ke empiris; induktif – kasus ke kesimpulan; empiris ke “teori”; kronologis – Urutan peristiwa.
2. Audible –bicaralah agak keras agar cukup terdengar (Audible)
3. Clarity — ucapkan setiap kata dengan jelas (Clarity).
4. Gunakan kata berona (colorfull word) – yang melukiskan sikap, perasaan, keadaan. Misalnya, kata “terisak-isak” lebih berona daripada kata “menangis”; kata “matanya berbinar-binar” -> bergembira, dll.
5. Kalimat aktif (action words) lebih dinamis daripada kalimat pasif.

PENUTUP
1. Langsung tutup, ucapkan salam, jika materi pembicaraan sudah disampaikan atau waktu sudah habis.
2. Teknik penutup: menyimpulkan, menyatakan kembali gagasan utama dengan kalimat berbeda, mendorong audience untuk bertindak (
Appeal for Action), kutipan sajak, kitab suci, pribahasa, atau ucapan ahli, memuji khalayak, dll. Misalnya, “saya akhiri pidato saya dengan pepatah, ‘marah lebih baik ketimbang putus asa’. Wasalam”. 

Sumber: ASM. Romli, Lincah Menulis Pandai Bicara. Nuansa Bandung, 2003

Elemen Public Speaking


Elemen Public Speaking: Teknik Humor dan Kontak Mata

Elemen atau unsur-unsur public speaking, selain materi, ada empat, yaitu teknik vokal, kontak mata (eye contact), humor, dan gerakan tubuh (gesture). Keempat elemen public speaking ini, jika dilakukan dengan baik dan benar, akan menjadikan public speaking yang efektif dan berkesan.
Teknik Vokal
1. Intonasi (intonation) –nada suara, irama bicara, atau alunan nada dalam melafalkan kata-kata.
2. Aksentuasi (accentuation) atau logat, dialek. Lakukan stressing pada kata-kata tertentu yang dianggap penting.
3. Kecepatan (speed). Jangan bicara terlalu cepat.
4. Artikulasi (articulation), yaitu kejelasan pengucapan kata-kata; pelafalan kata (pronounciation).
5.
Infleksi – lagu kalimat, perubahan nada suara; hindari pengucapan yang sama bagi setiap kata. Infleksi naik (go up) menunjukkan adanya lanjutan, menurun (go down) tunjukkan akhir kalimat.
Eye Contact
1. Pandang audience; sapukan pandangan ke seluruh audience.
2. Pandang tepat pada matanya!

Gesture
1. Alami, spontan, wajar, tidak dibuat-buat.
2. Penuh, tidak sepotong-sepotong, tidak ragu.
3. Sesuai dengan kata-kata.
4. Gunakan untuk penekanan pada poin penting,
5.
Jangan berlebihan. Less is more!
6. The most important gesture: to SMILE!
7. Gerakan tubuh meliputi: ekspresi wajah, gerakan tangan, lengan, bahu, mulut atau bibir, gerakan hidung, kepala, badan, kaki.
8. Setiap gerakan mengandung tiga bagian: Pendekatan (The Approach) – Tubuh siap untuk bergerak; Gerakan (The Stroke) – gerakan tubuh itu sendiri; dan Kembali (The Return) – kembali ke posisi semula atau keadaan normal.
9. Variatif, jangan monoton. Misalnya terus-menerus mengepalkan jari tangan di atas.
10. Jangan melalukan gerakan tubuh yang tidak bermakna atau tidak mendukung pembicaraan seperti: memegang kerah baju, mempermainkan mike, meremas-remas jari, dan menggaruk-garuk kepala.
11. Makin besar jumlah hadirin, kian besar dan lambat gerakan tubuh yang kita lakukan. Jika kita berbicara di depan hadirin dalam jumlah kecil, atau di videoconferencing, atau di televisi, lakukan gerakan tubuh alakadarnya (smaller gestures).

Humor
1. Bumbu Public Speaking.
2. Use Natural Humor! Don’t try to be a stand up comedian!
3. Gunakan hentian (pause) sekadar memberikan kesempatan kepada pendengar untuk tertawa.

Teknik Humor
  1. Exaggeration –melebihkan sesuatu secara tidak proporsional. Misalnya, ungkapan “hujan lokal” bagi pembicara yang “menyemburkan” air liur.
  2. Parodi –meniru gaya suatu karya serius (lagu, pepatah, puisi) dengan penambahan agar lucu, misalnya mengubah lirik lagu dengan kata-kata baru bernada humor.
  3. Teknik belokan mendadak –membawa khalayak untuk meyakini bawa kita akan berbicara normal, namun tiba-tiba kita mengatakan sebaliknya atau tidak disangka-sangka pada akhir pembicaraan. Contoh: Saya mencintai seorang wanita, namun kami tidak bisa menikah karena keluarganya merasa keberatan. Saya tidak bisa apa-apa, karena keluarganya yang tidak setuju itu adalah suami dan anak-anaknya!; TV (baca: tivi) yang dibuat di Bandung dan bermerk “Parisj van Java” yaitu tipikir-pikir tidak ada. Wasalam.


Sumber: ASM. Romli, Lincah Menulis Pandai Bicara. Nuansa Bandung, 2003

Tips Menjadi Pembicara, Teknik Pidato



Tips Menjadi Pembicara, Teknik Pidato
Public Speaking  dipahami sebagai berbicara di depan umum, seperti ceramah atau pidato dan presentasi. Public Speaking mencakup semua aktivitas berbicara (komunikasi lisan) di depan orang banyak, termasuk dalam rapat, membawakan acara (jadi MC), presentasi, diskusi, briefing, atau mengajar di kelas.
Presenter TV dan penyair radio termasuk melakukan PS dilihat dari sisi jumlah audience yang banyak (publik), meskipun tidak face to face.
Untuk menjadi “pembicara hebat” (great public speaker) dapat dilakukan dengan dua cara, yakni:
1. Practice –Latihan pidato di depan kawan-kawan, keluarga, bahkan anjing/kucing, atau siapa saja yang bisa mendengarkan; di depan cermin; menggunakan recorder.
2. Building Skill –membangun keterampilan PS dengan memahami teknik PS, meliputi persiapan dan penyampaian.
PERSIAPAN
Persiapan Mental
1. Rileks! Atasi gugup dengan menarik nafas panjang/dalam; menggerakan badan; berdiri tegak layaknya tentara berbaris dengan bahu dan dada yang tegap, lalu tersenyumlah!
2. Know the room! Jadikan seakan-akan ia kamar Anda sendiri.
3. Know the audience! Kenali karakteristik dan pandang mereka sebagai teman akrab.
4. Know your material! Anggaplah Anda yang paling tahu.

Persiapan Fisik
1. Pastikan kondisi badan dan suara fit, segar, dan normal
2. Kenakan pakaian yang serasi dengan susana acara.
3. Jangan memakan keju, mentega, atau minum susu, soda, teh, kopi, sekurang-kurangnya sejam sebelum tampil.
4. Jabatlah tangan Anda agar darah mengalir — membuat gerakan tangan Anda lebih alami saat berbicara di podium.
5. Jaga agar mulut dan tenggorokan Anda tetap basah. Siapkan selalu air mineral.

Persiapan Materi
1. Baca literatur dan cari sumber data sebanyak mungkin. Semakin banyak pengetahuan dan wawasan, Anda pun kian percaya diri.
2. Susun pointer atau outline.
3. Anda punya empat pilihan penguasaan materi: Membaca naskah (Reading from complete text), menggunakan catatan (Using notes) berupa garis besar materi (outline) –ini cara terbaik, menggunakan hapalan (memory) –pilihan terburuk karena komunikasi dengan audience berkurang, terutama soal kontak mata; dan menggunakan alat bantu visual sebagai catatan (Using Visual Aids as Notes).

PEMBUKAAN: TEKNIK MEMBUKA PIDATO
1. Start Low and Slow
2. Don’t apologize.
3. Teknik pembuka a.l. langsung menyebut pokok persoalan yang akan dibicarakan; mengajukan pertanyaan provokatif, menyatakan kutipan — teori, ungkapan, peristiwa, atau pepatah.

PENYAMPAIAN
1. Teknik pemaparan: deduktif – gagasan utama ke perincian; “teori” ke empiris; induktif – kasus ke kesimpulan; empiris ke “teori”; kronologis – Urutan peristiwa.
2. Audible –bicaralah agak keras agar cukup terdengar (Audible)
3. Clarity — ucapkan setiap kata dengan jelas (Clarity).
4. Gunakan kata berona (colorfull word) – yang melukiskan sikap, perasaan, keadaan. Misalnya, kata “terisak-isak” lebih berona daripada kata “menangis”; kata “matanya berbinar-binar” -> bergembira, dll.
5.
Kalimat aktif (action words) lebih dinamis daripada kalimat pasif.
PENUTUP
1. Langsung tutup, ucapkan salam, jika materi pembicaraan sudah disampaikan atau waktu sudah habis.
2. Teknik penutup: menyimpulkan, menyatakan kembali gagasan utama dengan kalimat berbeda, mendorong audience untuk bertindak (Appeal for Action), kutipan sajak, kitab suci, pribahasa, atau ucapan ahli, memuji khalayak, dll. Misalnya, “saya akhiri pidato saya dengan pepatah, ‘marah lebih baik ketimbang putus asa’.
Wasalam”.

Sumber: ASM. Romli, Lincah Menulis Pandai Bicara. Nuansa Bandung, 2003.





Teknik Menulis Berita Opini



Teknik Menulis Berita Opini

Berita opini (opinion news) adalah berita yang berisi pendapat atau gagasan seseorang –biasanya para pakar, cendekiawan, ahli, atau pejabat– mengenai suatu masalah atau peristiwa. Jadi, ringkasnya, berita opini itu memberitakan opini narasumber.
Berikut ini rumus atau “format dasar” penulisan lead atau teras berita opini:
Contoh 1:
Da’i kondang asal Bandung Ust. Romail Tiyya (WHO) mengajak umat Islam saling tolong dalam kebaikan, kebenaran, dan kesabaran sebagaimana diperintahkan Al-Quran (said WHAT). Ajakan itu dikemukakannya saat memberikan taushiyah dalam Tablig Akbar yang diselenggarakan Dompet Dhuafa Hong Kong di Tenda Putih Victoria Park Hong Kong (WHERE), Ahad (12/12) (WHEN).
Menurut Ust. Romail, saling tolong merupakan manifestasi keimanan dan keislaman seseorang. “Umat Islam itu bersaudara hingga wajib hukumnya saling tolong,” ujarnya (WHY) di depan ribuan orang yang memadati Tenda Putih Victoria Park di tengah cuaca dingin (HOW).
Dikatakannya, ….. “….,” ujarnya.
Ia menambahkan, ….. “…..,” katanya.

Contoh 2:
Umat Islam harus saling tolong dalam dalam kebaikan, kebenaran, dan kesabaran sebagaimana diperintahkan Al-Quran (WHAT). Hal itu dikemukakan Da’i kondang asal Bandung Ust. Romail Tiyya (WHO) saat memberikan taushiyah dalam Tablig Akbar yang diselenggarakan Dompet Dhuafa Hong Kong di Tenda Putih Victoria Park Hong Kong (WHERE), Ahad (12/12) (WHEN).
Menurut Ust. Romail, saling tolong merupakan manifestasi keimanan dan keislaman seseorang. “Umat Islam itu bersaudara hingga wajib hukumnya saling tolong,” ujarnya (WHY) di depan ribuan orang yang memadati Tenda Putih Victoria Park di tengah cuaca dingin (HOW).
Dikatakannya, ….. “….,” ujarnya.
Ia menambahkan, ….. “…..,” katanya.

Mudah ‘kan? Ayo, coba! Liput deh tuh ceramah ustadz atau khotbah Jumat, misalnya. Selamat mencoba.



Sumber: ASM. Romli, Lincah Menulis Pandai Bicara. Nuansa Bandung, 2003
 

Agenda Setting



Agenda Setting

Setiap media massa memiliki Agenda Setting. Disebut Media Agenda Setting. Setiap media memiliki agendanya sendiri dalam pemberitaan, sesuai dengan visi dan misi yang dimiliki.
Visi-misi media massa adalah “company philoshopy” yang menjadi “basic values” yang harus ditaati para wartawan dalam menulis berita. “Nilai-nilai dasar” baik yang sifatnya ideologis, politis, maupun ekonomis, menjadi acuan dalam penyusunan “editorial policy” sebuah media massa. 
Editorial Policy adalah kriteria layak-tidaknya sebuah berita dipublikasikan yang dalam dunia komunikasi massa disebut gatekeeping, yakni “a series of check point” yang dijaga oleh paragatekeeper (para redaktur rubrik). Sebuah berita harus melalui ”gate” tersebut sebelum sampai ke publik. Artinya, lolos-tidaknya sebuah peristiwa diberitakan (menjadi berita) bergantung pada hasil pengecekan tersebut, belum lagi ditambah “selera” redaktur yang subjektif.
Secara teroritis, setiap media memiliki “agenda-media” yang disetting sejak awal. Agenda dan gatekeeping  itulah yang “mengendalikan akses kita terhadap berita, informasi, dan hiburan” (Wilson).
Dalam perspektif teori komunikasi (massa) dikenal dengan “agenda-media setting theory” (Maxwell McCombs and Donald L. Shaw [1973]):
The Agenda-Setting Theory says the media (mainly the news media) aren’t always successful at telling us what to think, but they are quite successful at telling us what to think about”.
Agenda Setting juga didefinisikan sebagai proses di mana media massa menentukan apa yang kita pikirkan dan cemaskan (the process whereby the mass media determine what we think and worry about). Walter Lippmann (1922) menegaskannya:
“The media dominates over the creation of pictures in our headthe public reacts not to actual events but to the pictures in our head.”
Secara praktis, Agenda-Setting menentukan apa yang harus diberitakan sehingga menjadi “agenda publik” (public agendas), yakni isu utama yang menjadi bahan pembicaraan; diharapkan agenda publik nantinya menjadi “agenda kebijakan” (policy agenda) atau mempengaruhi “agenda politik” (political agenda) para pembuat kebijakan, yang pada akhirnya menentukan kebijakan publik (public policy).
  • Agenda Setting
  • Public Agenda
  • Policy Agenda
  • Political Agenda
  • Public Policy
The Media agenda is the set of issues addressed by media sources and the public agenda is the issues the public consider important (Miller, 2005).
Demikianlah, semua pemberitaan media melalui proses tertentu yang “dibingkai” (framing) berdasaran agenda-media, sehingga menimbulkan pengaruh dan interpretasi tertentu dan menciptakan “opini publik” (public opinion). Opini publik itulah yang mengendalikan pemikiran dan sikap masyarakat terhadap isu tertentu.
Maka, sadarlah, kita sudah dibohongi media massa, minimal oleh kebohongan yang “forgivable”! Karenanya, jangan terlalu percaya atau sepenunya yakin pada pemberitaan media, minimal jadilah “pembaca kritis”.
Lebih jelas tentang kebohongan media, jadilah penulis, wartawan, atau pengelola media massa. Idealnya, berpihaklah pada kebenaran dan publik. Dalam kamus media massa, parameter utama kebenaran adalah faktual –sesuai dengan fakta atau kenyataan—dan “doktrin kejujuran” (fairness doctrine). Maka, junjunglah kebenaran dan kejujuran itu, minimal dengan tidak memelintir fakta. “Fact is sacre!” menjadi pedoman baku para jurnalis profesional.

Kata Mubazir dan Kata Jenuh: Hindari Saat Menulis



Kata Mubazir dan Kata Jenuh: Hindari Saat Menulis!

Kata Mubazir dan Kata Jenuh harus dihindari saat menulis berita atau artikel untuk media massa.  Hal itu agar tulisan menjadi ringkas, efektif, dan memenuhi standar bahasa jurnalistik. Jika Kata Mubazir dan Kata Jenuh masih digunakan, maka terjadi pemborosan kata atau kalimat –hal tabu bagi jurnalis profesional.
Kata Mubazir yaitu  kata-kata yang sebenarnya dapat dihilangkan dari kalimat, seperti “adalah” (kata kopula), “telah” (petunjuk masa lampau), “untuk” (sebagai terjemahan to dalam bahasa Inggris), “dari” (sebagai terjemahan of dalam bahasa Inggris), “bahwa” (sebagai kata sambung), dan bentuk jamak yang tidak perlu diulang.
  • Ia adalah seorang dokter –> Ia seorang dokter.
  • Ia telah menikah setahun lalu –> Ia menikah setahun lalu.
  • Ia berupaya untuk menjadi dokter teladan –> Ia berupaya menjadi dokter teladan.
  • Bapak dari dua anak ini  –> Bapak dua anak ini.
  • Ia mengatakan bahwa anaknya memang bersalah –> Ia mengatakan anaknya memang bersalah.
  • Banyak teman-temannya yang terharu –> Banyak temannya yang terharu.
Termasuk kata mubazir: “pada hari”, “pada bulan”, “pada tahun”, dan “bertempat di” seperti dalam contoh di bawah ini:
  • Acara dilaksanakan pada hari Minggu sore tanggal 11 Januari 2012 –> Acara dilaksanakan Minggu sore, 11 Januari 2012 (lebih hemat kata/efektif).
  • Itu ditemukan pada tahun 1969 –> Itu ditemukan tahun 1969.
  • Harga BBM mulai naik pada bulan Januari 2013 –> Harga BBM mulai naik Januari 2013.
  • Mahasiswa dan polisi bentrok dalam aksi demonstrasi yang bertempat di Bundaran HI –>Mahasiswa dan polisi bentrok dalam aksi demonstrasi di Bundaran HI –>
Kata Jenuh –disebut juga  kata penat, tired word, kata klise, dan stereotype– yaitu kata-kata atau ungkapan klise yang sering dipakai dalam transisi (peralihan) berita, seperti kata-kata “sementara itu”, “dapat ditambahkan”, “perlu diketahui”, “dalam rangka”, “bahwasanya”, “sehubungan dengan hal itu”, “selanjutnya”, “adapun”, “yang mana”, “di mana”, dan lain-lain.
Kata jenuh yang paling sering muncul dalam tulisan wartawan adalah kata “Sementara Itu”. Lazim ditemukan dalam peralihan berita dari peristiwa satu ke peristiwa lain. Misalnya, dari berita tentang Liga Inggris ke berita tentang Liga Italia. Untuk menyambungkannya yang paling sering digunakan Kata Jenuh seperti “Sementara itu”.
Wartawan NBC News, Edwin Newman, mengatakan, ketika mempelajari berbagai naskah yang ditulisnya pada awal-awal dia menjadi koresponden, dia mencoret  setiap kata “sementara itu” dan mendapatinya tidak satu pun dari kata itu diperlukan.
Mantan Pemred Republika, Parni Hadi, dalam sebuah acara talkshow di TVRI mengatakan, masih banyaknya tulisan wartawan yang menggunakan kata mubazir dan kata jenuh akibat salah satu dari dua hal: kebodohan (ketidaktahuan) atau kemalasan. Lebih parah, jika akibat keduanya  –bodoh dan malas. 

Tips Mengatasi Gugup dalam Public Speaking



Tips Mengatasi Gugup dalam Public Speaking

Banyak orang mengalami ketidaksiapan secara mental untuk melakukan pidato atau presentasi (public speaking). Mereka dihinggap rasa takut berbicara di depan umum. Kondisi demikian diistilahkan sebagai:
  1. Demam Panggung (Stage Frigth)
  2. Kecemasan Bicara (Speech Anxiety)
  3. Stres Penampilan (Performance Stress)
  4. Gugup (Nervousness)
  5. Panik (Platform Panic).
  6. Glossphobia
Penyebab Gugup
  1. Merasa takut kelihatan bodoh atau “bloon” di depan orang lain.
  2. Takut tidak bisa berbicara apa-apa setelah di podium.
  3. Tidak melakukan persiapan.
  4. Tidak tahu apa yang harus kita bicarakan atau kita lakukan di podium.
  5. Menyadari atau mengetahui akan dinilai orang banyak.
  6. Menghadapi situasi asing atau tidak familiar dengan kita.
Dampak Gugup secara Fisik dan Mental
  1. Jantung berdetak lebih cepat atau hati berdebar-debar.
  2. Kaki atau lutut bergetar, demikian pula tangan.
  3. Tenggorokan atau mulut kering
  4. Lupa yang mau dibicarakan
  5. Suara bergetar bahkan sulit dikeluarkan
  6. Tangan atau telapak tangan terasa dingin
  7. Urat nadi berdenyut cepat.
  8. Bibir bergetar.
Tips Mengatasi Gugup
  1. Kuasai Materi! Bicarakan yang kita kuasai saja. Pilih topik yang sesuai dengan pengetahuan dan pengalaman. Menguasa materi meningkatkan rasa percaya diri.
  2. Fokus ke materi! Bukan ke audiens. Konsentrasi hanya pada pesan yang akan kita sampaikan.
  3. Latihan! Keluarkan suara dengan keras, berdiri di depan cermin, jika perlu pilih tempat di sudut ruangan agar ada pantulan suara, gunakan tape recorder untuk merekamnya, dan jika memungkinkan berlatihlah bicara di depan teman-teman dekat kita.
  4. Tarik nafas dalam-dalam!
  5. Tersenyumlah! Tunjukkan wajah ramah. Simpati audiens akan muncul dan memperkuat rasa percaya diri Anda.
  6. Lakukan pemanasan vokal. Say! PaPaPaPa, BaBaBaBa, TaTaTaTa, DaDaDaDa, KaKaKaKa, GaGaGaGa, lalu ucapkan secara terbalik.
  7. Relaksasi! Lemaskan otot-otot yang tegang, misalnya dengan menggoyangkan kaki, menyalami tangan sendiri dan meletakkannya di atas kepala, dan memutar-mutarkan leher dan bahu.
  8. Goyang-goyangkan tangan yang bergetar secara perlahan dan metelakkannya di atas mimbar.
  9. Rileks! Jangan terburu-buru.
  10. Lekukkan ujung jari kaki!
  11. Baguskan Slide Presentasi! Alihkan perhatian audiens agar tidak fokus memandang kita.
  12. Jangan tatap mata audiens, tapi wilayah di antara dua mata mereka.
  13. Pada awal pembicaraan, jangan bicara ke semua audiens sekaligus, satu per satu saja!
  14. Pilih satu orang di audiens yang berwajah paling friendly (ramah) dan dedikasikan presentasi Anda untuk dia.
  15. Berbicaralah seolah-olah audiens adalah teman-teman kita dan memang teman kita!
  16. Memegang sesuatu –misalnya tisu– di kepalan tangan sebagai “pengalih” ketegangan.
  17. Sebelum tampil, pejamkan mata dan bayangkan audiens mendengarkan, tertawa, dan bertepuk tangan buat kita.
Kebanyakan gugup atau demam panggung hanya terjadi sebelum naik podium. Begitu kita tampil, demam panggung lenyap dengen sendirinya. Selamat berlatih. Wasalam.



Sumber: ASM. Romli, Lincah Menulis Pandai Bicara. Nuansa Bandung, 2003