Profesi

Foto saya
Bengkulu, Bengkulu, Indonesia

Kamis, 19 Januari 2012

Cara Mengetahui Private Number / Nomor Pribadi

Apakah anda sering di telepon nomor yang menggunakan Private Number atau Nomor Pribadi ? ? Hmmm, , terkadang memang sangat menjengkelkan jika kita di hubungi orang- orang iseng yang menelfon menggunakan nomor pribadi / nomor dirahasiakan. Biasanya orang yang telefon menggunakan nomor oribadi / nomor yang disembunyikan tersebut mempunyai maksud tertentu sama kita, entah itu sekedar iseng, mengganggu, atau mungkin naksir sama kita ..hehe trus gimana donk Cara Mengetahui Nomor pribadi / Private number yang nelfonin kita ? ?
Ada beberapa Cara Mengetahui Private Number / Nomor Pribadi yang mengganggu kita melalui telepon. Jika anda masih belum mengetahui tips tips mengetahui nomor dirahasiakan yang mengganggu kita, silahkan anda simak artikel yang ditulis blogger tuban berikut ini:

Melacak Private Number

1. Cara Mengetahui Private Number Yang Pertama:
(untuk pengguna hp NOK*A)
Ketikkan kode *#30# dan tekan OK, maka di layar akan muncul tulisan “nomer penelpon ditampilkan” atau biasanya tergantung dari tipe hp masing-masing. Untuk kode ini sayangnya tidak didukung oleh operator di Indonesia, jadi ini hanya sebagai bahan pengetahuan saja. Kapan ya di Indonesia operatornya bisa?

2. Cara Mengetahui Nomor Pribadi Yang Kedua:
Mendivert semua panggilan tidak dikenal. Pada setiap hp ada fasilitas divert/ pengalihan ini, nah pada malam hari jika memaksa tetap mengaktifkan hp dan biasanya ada orang iseng gunakan fasilitas divert ini, caranya alihkan semua panggilan tidak dikenal (yang tidak tercantum di phonebook) ke kotak mailbox, jadi setiap panggilan masuk yang nomernya hidden bakalan masuk ke mailbox dan nanti kita akan mendapatkan sms bahwa pemanggil dengan nomer 08xxxxxxxx telah menghubungi agan. Lihat record dari nomer tersebut sapa saja yang menelpon. Khusus untuk XL, Indosat dan telkomsel biasanya bisa.

3. Cara Mengetahui Nomor DirahasiakanYang Ketiga:
Disaat agan tahu ada orang iseng dengan menelpon berulang – ulang menggunakan private number, sebaiknya setelah panggilan ketiga kalinya, matikan hp agan sampai beberapa waktu, tujuannya agar penelpon kena pulsa. Maksudnya supaya dia masuk ke kotak mailbox juga, nah seperti cara kedua, maka saat kita menghidupkan hp kita nomer penelpon akan diberikan oleh operator kita. Misalnya jika kita menggunakan XL, maka smsnya akan datang dari 818 dengan isi ” anda telah dihubungi oleh 081xxxxxxx pada 23:15 dst…” ane rasa ini adalah cara paling ampuh secara tradisional yang bisa diterapkan di Indonesia.

4. Cara Mengetahui Private Number / Nomor Pribadi Yang Keempat:
Saat agan tahu ada penelpon iseng dengan menggunakan private number, maka gunakan hp anda untuk menelpon, nah maka saat dia mencoba menelpon anda di tempat si penelpon iseng tersebut akan masuk ke mailbox karena nada sibuk. Untuk mengetahui nomernya si penelpon biasanya agan mendapatkan sms seperti yang ane jelaskan di cara ketiga di atas.

5. Cara Mengetahui Private Number Yang Terahir:
Reject telpon agan dengan menekan tombol bergambar telpon warna merah (tombol off) dan biarkan si penelpon masuk ke mailbox. Sayangnya cara ini tidak selalu bisa, karena dianggap kita sengaja menolak setelah mengetaui penelponnya, tapi untuk malam hari kebanyakan cara ini akan menggiring penelpon ke kotak mailbox kita, sehingga sekali lagi kita akan mendapat sms seperti sebelumnya. Untuk pembuktian semua cara ini, coba lakukan sendiri terlebih dahulu untuk meyakinkan agan. Jadi agan bisa memilih cara mana yang efektif.

Nah , , itulah beberapa tips dan Cara Mengetahui Private Number / Nomor Pribadi yang menelfon kita. Semoga tips tips diatas bisa bermanfaat untuk anda semua. O iya, jangan lupa juga untuk membaca artikel mengenai Cara Merubah Video Ke Mp3 ya. Trimakasih, ,

Keywords:

cara mengetahui private number,cara melacak private number,cara mengetahui privat number,cara melihat private number,mengetahui private number,private number,cara melihat privat number,cara menelpon dengan menggunakan privat number xl,melacak private number,nomer melihat

Ragam Bahasa Jurnalistik

Sifat Umum Ragam Bahasa Jurnalistik
Perlu diketahui sebelumnya, bahwa yang membedakan ragam bahasa jurnalistik dengan ragam bahasa yang lain adalah dalam cara penggunaannya. Ragam bahasa jurnalistik digunakan untuk mengungkapkan hal-hal yang dialami, diketahui, dan dipikirkan oleh sebagian besar orang ( Slamet Soewandi, 1996 ). Hal-hal itu berupa fakta ( berita ), pendapat (opini ), dan pemberitahuan.
Menurut H. Rosihan Anwar, Sifat Ragam Bahasa Jurnalistik terdiri dari:
1.  Menggunakan kalimat pendek
2.  Menggunakakn bahasa biasa yang mudah dipahami orang
Bahasa adalah alat untuk menyampaikan cipta dan informasi. Bahasa diperlukan dalam komunikasi. Dalam suatu penulisan harus menggunakan bahasa yang betul-betul dapat dimengerti khalayak (audiens). Salah satunya penulis harus komunikatif.
3.  Menggunakan bahasa sederhana dan jernih pengutaraannya
Khalayak media massa yaitu pembaca surat kabar, pendengar radio, penonton televisi terdiri dari aneka ragam manusia dengan tingkat pendidikan dan pengetahuan yang berbeda-beda, dengan minat perhatian, daya tangkap, kebiasaan yang berbeda-beda pula.
4.  Menggunakan bahasa tanpa kalimat majemuk
Dengan menggunaan kalimat majemuk, pengutaraannya pikiran kita sering terpeleset menjadi berbelit-belit dan bertele-tele. Penulis sebaiknya menjauhkan diri dari kesibukan memakai kalimat majemuk karena bisa mengakibatkan tulisannya menjadi woolly alias tidak terang.
5.  Mengunakan bahasa dengan kalimat aktif, bukan kalimat pasif
Membuat berita menjadi hidup bergaya ialah sebuah persyaratan yang dituntut penulis atau wartawan. Pengunaan kalimat aktif lebih disukai jurnalistik daripada kalimat pasif karena dinggap lebih bergaya. Contoh: : Si Amat dipukul babak belur oleh si Polan”. Dari pada kalimat “ Si Polan memukul si Amat babak belur”.
                                     
6.  Menggunakan bahasa padat dan kuat
Penulis atau wartawan muda seringkali suka terhanyut menulis dengan mengulangi makna yang sama dalam bebagai kata. Kata-kata yang dipakai seharusnya efisien dan seperlunya saja. kembang-kembang bahsa harus dihindarkan. Bahasa jurnalistik harus hemat dengan kata-kata.
7.  Menggunakan bahasa positif, bukan bahasa negative
Penulis di dalam menulis, sedapat mungkin menulis dalam bentuk kalimat positif karena kalimat positif dianggap lebih sopan daripada kalimat negatif. Contoh: “ Wartawan Sondang Meliala tidak menghendaki penataran wartawan olahraga”. Dengan kalimat “ Wartawan Sondang Meliala menolak penataran wartawan olahraga”. Kalimat kedua lebih bersifat positif dibanding dengan perkataan “ tidak menghendaki”, karena “ tidak” bersifat negatif.

Menurut Slamet Soewandi, secara umum wacana dengan ragam bahasa jurnalistik memiliki ciri :
1.  Singkat
Singkat adalah penuturan yang tidak berpanjang-panjangan, bertele-tele.
2.  Padat
Padat adalah mengacu pada arti syarat isinya
3.  Sederhana
Sederhana adalah tidak berbelit-belit
4.  Lancar
Lancar adalah penuturan yang tidak tersendat-sendat, melainkan mengalir dengan enak.
5.  Jelas
Jelas adalah penuturan yang tidak menimbulkan salah tafsir .
6.  Lugas
Lugas adalah tidak mengada-ada.
7.  Menarik
Menarik adalah pemberitaan yang membuat pembaca, pendengar atau penonton bosan, atau mengerutkan dahi karena masalahnya berat.
                                                                                 
8.  Baku
Baku adalah penulisan kata dan kalimat, pemilihan dan pembentukan kata, pemilihan danpembentukan kalimat, pemilihan dan pembentukan paragraph menurut kaidah yang berlaku.
9.  Netral
Netral adalah tidak berpihak atau membedakan tingkatan, jabatan atau kedudukan orang.
Menurut Kunjana Rahardi Ragam Bahasa Jurnalistik yaitu:
1.  Komunikatif
Bahasa jurnalistik tidak berbelit-belit, tidak membunga-bunga, tetapi harus langsung terus langsung pada pokok permasalahannya ( straight to the point). Bahasa jurnalistik harus lugas, sederhana, tepat diksinya dan menarik sifatnya. Dengan demikian bahasanya akan menjadi komunikatif, tidak menimbulkan salah paham dan menimbulkan tafsir ganda.
2.  Spesifik
Bahasa jurnalistik harus disusun dengan kalimat-kalimat yang singkat-singkat dan pendek-pendek. Bentuk kebahasaannya sederhana dan mudah diketahui oleh banyak orang, gampang dimengerti oleh orang awam. Kata-katanya hendaknya bersifat denotative maknanya, sehingga tidak dimungkinkan ada salah tafsir makna yang ganda.
3.  Hemat kata
Kebahasaan yang dipakai dalam bahasa jurnalistik hendaknya bercirikan minim karakter kata atau sedikit jumlah huruf-hurufnya. Kalimat-kalimat jurnalistik dibuat simple dan sederhana serta tidak menumpuk-nimpuk gagasannya.
4.  Jelas makna
Bahasa jurnalistik sedapat mungkin digunakan kata-kata yang bermakna denotatif, kata-kata yang mengandung makna sebenarnya, bukan kata-kata yang bermakna konotatif, kata-kata yang maknanya tidak langsung, kata- kata yang bermakna
kiasan.                                                             
5.  Tidak mubazir dan tidak klise        
Bentuk mubazir pada kata atau frasa yng sebenarnya dapat dihilangkan dari kalimat yang menjadi wadahnya, dan peniadaan kata-kata tersebut tidak mengubah arti/maknanya. Kata-kata klise atau stereotype ialah kata-kata yang berciri memenatkan, melelahkan, membosankan, terus hanya begitu-begitu saja, tidak ada inovasi, tidak ada variasi. 

Ragam Bahasa Jurnalistik Radio
Salah satu alat komunikasi yang akrab dengan kita adalah radio. Perbedaan mendasar antara radio dan media cetak adalah dalam hal cara penyampaian pesannya. Media cetak lebih menitikberatkan pada penyampaian pesan melalui cetakan ( video ), sedangkan radio melalui pendengaran ( audio ).
Secara garis besar sebenarnya ragam bahasa radio hampir sama dengan ragam bahasa dalam media cetak. Tetapi, radio memiliki suatu gaya tersendiri. Gaya radio sendiri, menurut Drs. Onong Uchjana Effendy, M.A, disebabkan oleh dua factor :
1.  Sifat radio siaran
Sifat radio siaran adalah auditif, untuk didengar. Karena hanya untuk didengar, maka isi siaran yang sampai ke telinga pendengar hanya sepintas lalu saja
2.  Sifat pendengar radio
Pendengar adalah sasaran komunikasi massa media radio. Komunikasi dapat dikatakan efektif , apabila pendengar terpikat perhatiannya, tertarik terus minatnya, mengerti, tergerak hatinya dan melakukan kegiatan apa yang diinginkan si pembicara ( Onong Uchayana Effendy, 1978 ).
Ciri Jurnalistik Radio
Berdasarkan karakteristik jurnalistik radio yang dipengaruhi faktor siaran dan pendengar,  maka radio memiliki ciri khas sebagai berikut :
1.  Tidak mengenal ” kebenaran reserve
Hal tersebut memiliki maksud bahwa berita dalam radio itu harus mengandung kebenaran yang tepat dan akurat. Hal ini mutlak karena sekali berita itu disiarkan, tidak mungkin diralat. Kalaupun dapat, perlu diingat sifat radio itu sendiri.
                                                                        
Pendengar mungkin hanya mendengar ralatnya saja, tanpa pernah mendengar apa yang diralat. Atau kebalikannya, pendengar tidak mendengar ralatnya, sehingga berita salah yang diralat dianggap suatu kebenaran.
2.  Obyektif
Suatu berita yang obyektif tentunya tidak memihak, tidak cacat, dan tidak diwarnai maksud-maksud tertentu. Sehingga hendaknya berita dalam diberikan sebagaimana adanya, tanpa maksud, dan tujuan tertentu.
3.  Bersusila
Radio ditujukan kepada semua pendengar dengan tidak memandang status sosialnya ( khususnya program berita ). Telah disinggung berulangkali bahwa radio bersifat auditif. Karena sifat radio itu sendiri dan keragaman status sosial pendengarnya, hal ini tentu akan membawa imajinasi yang berbeda pada setiap pendengarnya. Oleh sebab itu, hendaknya kesopanan dalam penuturan perlu dijaga.

Ciri Bahasa Jurnalistik Radio
Secara garis besar, bahasa jurnalistik radio dan jurnalistik cetak tidak jauh berbeda. Radio menekankan penyampaian pesan secara audio, maka bahasa yang digunakan tentunya disusun dan diatur sedemikian rupa sehingga dapat menyampaikan pesan secara tepat kepada pendengarnya. Menurut Onong Uchajana Effendy ( 1978 : 91 ), ciri Bahasa Radio adalah :
1.  Menggunakan kata-kata yang sederhana.
2.  Menggunakan kata-kata yang lazim dipakai masyarakat.
3.  Menggunakan kata-kata yang sopan.
4.  Menggunakan susunan kalimat yang rapih.
5.  Menggunakan susunan kalimat yang logis
6.  Bahasanya jelas.




                                                                           

Rabu, 18 Januari 2012

Teknik Vokal

Gaya Bicara Penyiar Radio

1. Natural voice –suara alamiah, tidak dibuat-buat, berbicara seperti halnya ngobrol dengan teman di kafe, di telepon, atau di mana pun.

2. Ceria. Kelincahan (vitality) dalam berbicara sehingga dinamis dan penuh semangat, cheerful! Anda harus ceria selalu. Jangan lemas, lunglai, nanti terkesan tidak mood, apalagi ”judes”! Penyiar adalah penghibur, entertainer!

3. Suara diafragma –gunakan suara perut, suara yang keluar dari rongga antara dada dan perut. Untuk itu, perut harus bebas dari segala tekanan, duduk tegak, jangan bungkuk, dan… rileks! Nyatai, tidak tegang, tidak gugup.

4. Conversational –bicara dengan gaya ngobrol, bukan pidato, gunakan bahasa tutur, bahasa percakapan sehari-hari. Jangan gunakan gaya MC di pentas musik atau acara seremonial. Jadi, gak usah teriak juga bicara ”formal”.

5. Senyum –tebar senyuman agar friendly, ramah, hangat, dan enak didengar, memikat pendengar. Tentu, senyum diabaikan saat bicara kasus duka.

6. Atur Nafas –nafas megap-megap tidak akan menghasilkan siaran yang bagus. Bernafas secara tepat adalah dasar siaran profesional.

7. Mental Image, Visualize! –bayangkan sedang berbicara pada seorang teman. Membayangkan adanya seorang pendengar di depan akan membantu berkomunikasi secara alamiah, gaya ngobrol (conversational way). Berbicaralah layaknya kepada teman akrab (intimate friend). Lihat wajah teman Anda itu dalam “pikiran mata” (mind’s eye) Anda.

8. Konsentrasi –agar fokus, tidak ngaco.

9. Eye Contact, Kontak Mata. Bayangkan saja, Anda sedang berbicara dengan seorang teman, di depan Anda, tepat di depan meja siaran. Dijamin, gaya bicara Anda ”conversational” dan ”hangat”.

10.  Gesture. Gunakan gerakan tubuh (gesture), meskipun tidak ada orang yang melihat Anda. Anda adalah aktor.

11. Pause, Jeda. Jedalah, diam sejenak, beberapa detik saja, untuk membiarkan pesan Anda sampai ke pendengar. Anda juga bisa jeda jika ”mencari gagasan” atau ”memilih kata” berikutnya.

12. Inflection, Infleksi. Jangan monoton, gunakan ”lagu kalimat” dengan benar; meninggi saat jeda, menurun saat selesai. Jangan khawatir, jika Anda berbicara dengan benar (gaya ngobrol), infleksi otomatis terjadi.

13. Intonasi (intonation) –nada suara, irama bicara, atau alunan nada dalam melafalkan kata-kata, sehingga tidak datar atau tidak monoton. Intonasi bisa mengubah makna sebuah kata atau ungkapan!

14. Aksentuasi (accentuation) –penekanan (stressing) pada kata-kata tertentu yang dianggap penting. Aksentuasi dapat dilatih dengan cara menggunakan “konsep suku kata” -dan, yang, di (satu suku kata); minggu, jadi, siap, Bandung (dua suku kata); bendera, pendekar, perhatian (tiga suku kata); dan sebagainya. Ucapkan sesuai penggalan atau suku katanya!

15. Speed. Gunakan kecepatan (speed) dan kelambatan berbicara secara bervariasi. Kecepatan berpengaruh pada kejelasan (clarity), juga durasi.

16. Artikulasi (articulation) — kejelasan pengucapan kata demi kata. Disebut juga pelafalan kata (pronounciation). Jangan salah eja/ucap. (http://romeltea.com/).*


Tips Bekerja Menjadi Penyiar Radio & Televisi


Seiring dengan maraknya perkembangan dunia penyiaran baik radio maupun televisi di Indonesia saat ini, tidak bisa dipungkiri lagi bahwa dari industri inilah terbukanya kesempatan bagi mereka untuk bisa ikut berkecimpung dalam dunia penyiaran atau yang lebih sering disebut sebagai broadcasting. Hampir disetiap daerah atau provinsi sudah memiliki beberapa stasiun radio dan Televisi lokal, oleh karena itulah peluang untuk bekerja dalam bidang broadcasting khususnya menjadi seorang penyiar menjadi lebih besar.
Kebanyakan beranggapan bahwa akan sulit untuk bisa menjadi seorang penyiar radio maupun televisi. Akan tetapi, asalkan ada kemauan dan keyakinan, maka tidak ada hal yang tidak mungkin. Ada beberapa hal penting yang perlu Anda ketahui jika Anda berencana untuk bekerja sebagai penyiar radio maupun televisi. Berikut tips yang akan membantu Anda:
1. Percaya diri (PD). Percaya diri adalah kunci utama untuk menjadi seorang penyiar. Harus mempunyai keyakinan dan tekad yang tinggi ketika Anda memtuskan untuk menjadi seorang penyiar. karena Anda sudah pasti akan gagal jikalau dari awal saja sudah merasa ragu-ragu, minder, tengsin, dan sebagainya. Percaya diri saja bahwa Anda pasti bisa untuk berbicara dalam studio siaran. Memang sudah pasti akan ada rasa deg-degan ataupun gejala grogi lainnya, tapi bulatkanlah tekad dan yakinkan Anda bahwa Anda pasti bisa melakukannya.
2. Pengetahuan yang luas. Anda salah besar jika beranggapan dengan memiliki suara yang enak didengar dan memiliki fisik yang hampir sempurna (tinggi, putih, cantik/ganteng, dll) merupakan hal yang sangat penting dan diperhatikan oleh pemirsa. Berdasarkan prinsip dasar broadcasting yaitu menyampaikan pesan, berita maupun info ringan, maka sudah dipastikan bahwa seorang penyiar harus memiliki pengetahuan yang luas dalam hal apa pun. Apalah artinya jika seorang penyiar memiliki kesempurnaan pada vokal dan fisik tetapi dangkal pengetahuannya? Oleh karena itu, Anda harus banyak membaca koran, nonton berita di televisi, dan rajin-rajinlah searching info apa pun yang menarik di Internet untuk dijadikan materi siaran Anda.
3. Memiliki pergaulan yang luas. Perbanyaklah teman dalam kehidupan Anda, karena akan ada banyak info yang akan Anda dapatkan. Anda tidak akan bisa sukses menjadi seorang penyiar apabila lingkup pergaulan Anda hanya seputar rumah ataupun kampus Anda saja. Pergunakanlah media pergaulan online yang sekarang sudah semakin banyak dan ramai dipergunakan oleh kebanyakan orang. Atau bisa juga Anda mendatagi tempat-tempat nongkrong yang sedang diminati oleh kebanyakan orang.
4. Mengenali lebih dalam radio ataupun televisi yang menjadi target Anda. Hal ini menjadi penting, karena apabila Anda tidak mempunyai pengetahuan apa-apa tentang radio ataupun televisi dimana Anda akan menjadi penyiarnya, maka sama saja Anda akan membuat malu radio ataupun televisi tersebut. Diibaratkan penyiar adalah mascot dari radio atau televisi, oleh karena itu jangan permalukan diri Anda ketika ada orang yang bertanya tentang radio atau televisi tempat Anda bekerja. Pelajarilah segala sesuatu yang berhubungan dengan radio dan televisi tersebut.
5. Memahami secara mendalam segmen acara radio ataupun televisi. Dengan Anda memahami secara mendalam segmen acara dari radio ataupun televisi dimana Anda akan menjadi penyiarnya, maka Anda berarti sudah mengerti tentang audience/listener: kriteria usia, gender/jenis kelamin, pekerjaan dari audience/listener, program acara apa yang diminati dan yang mereka butuhkan, dan sebagainya. Dengan memahami semuanya maka Anda akan menjadi penyiar yang handal.
6. Mampu bekerjasama yang baik dalam tim. Kualitas dari program acara yang akan Anda bawakan akan ditentukan oleh solidnya Anda dengan tim Anda. Oleh karena itu, Anda harus bisa bekerja sama dengan tim Anda. Anda bisa menganggap tim Anda sebagai keluarga. Karena bagaimana pun juga Anda akan saling berhubungan dan berinteraksi lebih banyak dengan tim (maksudnya Anda akan membutuhkan bantuan scriptwriter, teknisi, produser, dll).
7. Be Yourself. Don’t try and be someone you are not. Be yourself atau originalitas merupakan point yang banyak dicari dan dibutuhkan dalam industri radio atau televisi khususnya untuk menjadi seorang penyiar. Jadilah diri sendiri, jangan meniru gaya penyiar yang sudah ada. Temukanlah gaya Anda sendiri, karena semakin Anda berbeda maka Anda semakin mempunyai nilai lebih. Keaslian gaya Anda bisa dilihat dari gaya bicara, penyampaian pesan/adlibs iklan, gaya Anda duduk, penampilan Anda, dan lain-lainnya. Jika memungkinkan, jadikan originalitas diri Anda sebagai trendsetter bagi audience/listener.

Jurnalistik Radio