Rabu, 08 Maret 2017
Menjelang usia Lepau Uncu ke-7 pada tanggal 7 April 2017, Lepau Uncu mulai aktif kembali.
Obrolan Lepau Uncu pada Jumat sore 10 Maret 2017 pukul 16.00-1700 WIB di Pro1 RRI Bengkulu (FM 92.5) dengan Tema : Danau Buatan untuk Objek Wisata Baru di Bengkulu
jangan lupo nganing di FM 92.5 MHz (Pro 1) RRI Bengkulu,ado Midin, Sri'i, Birin dan Donga Herman
Selasa, 25 Desember 2012
Praktisi Humas Wajib Bisa Menulis
Praktisi Humas Wajib Bisa Menulis
Peran penting petugas humas (public relation officer) di sebuah lembaga membuatnya harus memiliki keterampilan khusus dalam berkomunikasi. Keterampilan pertama yang wajib dimiliki humas adalah menulis. Jadi, manajer dan/atau staf humas wajib bisa menulis!“Writing is the number one skill of PR practitioners,” kata Craig Pearce dalam blognya, craigpearce.info. Bahkan, “It’s more important than being a nice person. Seriously.” Keterampilan menulis lebih penting ketimbang jadi “orang baik”.
“Tidak ada PR tanpa keterampilan menulis,” imbuh Todd Hunt.
Berikut ini lima keterampilan utama yang harus dimiliki petugas humas/PR (Top 5 PR Skill) sebagaimana dikemukakan Pete Codella dalam blognya, petecodella.com.
Ia menyebutnya sebagai “a short list of … the most in-demand and important skills are for public relations practitioners” (daftar singkat … keterampilan dan tuntutan paling penting untuk praktisi humas).
- Writing –Praktisi humas harus terampil menulis dengan baik –dari segi substansi dan tata bahasa. Publik saat ini tidak hanya bergantung pada wartawan atau media massa untuk mengakses informasi. Mereka juga sudah menjadikan media sosial –facebook, twitter—sebagai sarana komunikasi dan bertukar informasi.
- Kreativitas –kompleksitas saluran komunikasi saat ini, dan banyaknya informasi yang setiap membombardir kita, menuntut para komunikator profesional untuk menjadi kreatif dalam mengemas dan menyampaikan pesan.
- Menguasai ‘Publishing Tools’ –internet dan alat-alat media sosial menjadikan praktisi humas “kebanjiran” sarana komunikasi. Praktisi humas saat ini mesti akrab dengan berbagai saluran komunikasi tradisional dan digital untuk mengidentifikasi kesempatan terbaik bagi klien dan employer mereka.
- Profesionalisme –nilai-nilai inti advokasi, kejujuran, keahlian, kemandirian, kesetiaan, dan keadilan adalah penting bagi para praktisi humas yang serius. Tahun 2000 Public Relations Society of America (PRSA) menerbitkan kode etik humas yang menguraikan enam nilai inti serta prinsip-prinsip inti etika humas. (Untuk humas Indonesia: menaati kode etik kehumasan).
- Personable –Menarik, Menawan. Berlaku baik kepada orang-orang (good with people). Profesi humas membutuhkan orang-orang “pemersatu” (uniters), bukan “pemisah” (dividers), mendorong komunikasi yang lebih baik di dunia kita yang terkadang “konfrontatif”. Dalam kata-kata Michael Jackson, PR/humas membutuhkan pekerja yang akan setuju dengan pernyataannya: ““I’m a lover, not a fighter”.
Dasar-Dasar Public Speaking
Dasar-Dasar Public Speaking
* Tips Menjadi Pembicara, Teknik PidatoPublic Speaking dipahami sebagai berbicara di depan umum, seperti ceramah atau pidato dan presentasi. Public Speaking mencakup semua aktivitas berbicara (komunikasi lisan) di depan orang banyak, termasuk dalam rapat, membawakan acara (jadi MC), presentasi, diskusi, briefing, atau mengajar di kelas.
Presenter TV dan penyair radio termasuk melakukan PS dilihat dari sisi jumlah audience yang banyak (publik), meskipun tidak face to face.
Untuk menjadi “pembicara hebat” (great public speaker) dapat dilakukan dengan dua cara, yakni:
1. Practice –Latihan pidato di depan kawan-kawan, keluarga, bahkan anjing/kucing, atau siapa saja yang bisa mendengarkan; di depan cermin; menggunakan recorder.
2. Building Skill –membangun keterampilan PS dengan memahami teknik PS, meliputi persiapan dan penyampaian.
PERSIAPAN
Persiapan Mental
1. Rileks! Atasi gugup dengan menarik nafas panjang/dalam; menggerakan badan; berdiri tegak layaknya tentara berbaris dengan bahu dan dada yang tegap, lalu tersenyumlah!
2. Know the room! Jadikan seakan-akan ia kamar Anda sendiri.
3. Know the audience! Kenali karakteristik dan pandang mereka sebagai teman akrab.
4. Know your material! Anggaplah Anda yang paling tahu.
Persiapan Fisik
1. Pastikan kondisi badan dan suara fit, segar, dan normal
2. Kenakan pakaian yang serasi dengan susana acara.
3. Jangan memakan keju, mentega, atau minum susu, soda, teh, kopi, sekurang-kurangnya sejam sebelum tampil.
4. Jabatlah tangan Anda agar darah mengalir — membuat gerakan tangan Anda lebih alami saat berbicara di podium.
5. Jaga agar mulut dan tenggorokan Anda tetap basah. Siapkan selalu air mineral.
Persiapan Materi
1. Baca literatur dan cari sumber data sebanyak mungkin. Semakin banyak pengetahuan dan wawasan, Anda pun kian percaya diri.
2. Susun pointer atau outline.
3. Anda punya empat pilihan penguasaan materi: Membaca naskah (Reading from complete text), menggunakan catatan (Using notes) berupa garis besar materi (outline) –ini cara terbaik, menggunakan hapalan (memory) –pilihan terburuk karena komunikasi dengan audience berkurang, terutama soal kontak mata; dan menggunakan alat bantu visual sebagai catatan (Using Visual Aids as Notes).
PEMBUKAAN: TEKNIK MEMBUKA PIDATO
1. Start Low and Slow
2. Don’t apologize.
3. Teknik pembuka a.l. langsung menyebut pokok persoalan yang akan dibicarakan; mengajukan pertanyaan provokatif, menyatakan kutipan — teori, ungkapan, peristiwa, atau pepatah.
PENYAMPAIAN
1. Teknik pemaparan: deduktif – gagasan utama ke perincian; “teori” ke empiris; induktif – kasus ke kesimpulan; empiris ke “teori”; kronologis – Urutan peristiwa.
2. Audible –bicaralah agak keras agar cukup terdengar (Audible)
3. Clarity — ucapkan setiap kata dengan jelas (Clarity).
4. Gunakan kata berona (colorfull word) – yang melukiskan sikap, perasaan, keadaan. Misalnya, kata “terisak-isak” lebih berona daripada kata “menangis”; kata “matanya berbinar-binar” -> bergembira, dll.
5. Kalimat aktif (action words) lebih dinamis daripada kalimat pasif.
PENUTUP
1. Langsung tutup, ucapkan salam, jika materi pembicaraan sudah disampaikan atau waktu sudah habis.
2. Teknik penutup: menyimpulkan, menyatakan kembali gagasan utama dengan kalimat berbeda, mendorong audience untuk bertindak (Appeal for Action), kutipan sajak, kitab suci, pribahasa, atau ucapan ahli, memuji khalayak, dll. Misalnya, “saya akhiri pidato saya dengan pepatah, ‘marah lebih baik ketimbang putus asa’. Wasalam”.
Sumber: ASM. Romli, Lincah Menulis Pandai Bicara. Nuansa Bandung, 2003
Elemen Public Speaking
Elemen Public Speaking: Teknik Humor dan Kontak Mata
Elemen atau unsur-unsur public speaking, selain materi, ada empat, yaitu teknik vokal, kontak mata (eye contact), humor, dan gerakan tubuh (gesture). Keempat elemen public speaking ini, jika dilakukan dengan baik dan benar, akan menjadikan public speaking yang efektif dan berkesan.Teknik Vokal
1. Intonasi (intonation) –nada suara, irama bicara, atau alunan nada dalam melafalkan kata-kata.
2. Aksentuasi (accentuation) atau logat, dialek. Lakukan stressing pada kata-kata tertentu yang dianggap penting.
3. Kecepatan (speed). Jangan bicara terlalu cepat.
4. Artikulasi (articulation), yaitu kejelasan pengucapan kata-kata; pelafalan kata (pronounciation).
5. Infleksi – lagu kalimat, perubahan nada suara; hindari pengucapan yang sama bagi setiap kata. Infleksi naik (go up) menunjukkan adanya lanjutan, menurun (go down) tunjukkan akhir kalimat.
Eye Contact
1. Pandang audience; sapukan pandangan ke seluruh audience.
2. Pandang tepat pada matanya!
Gesture
1. Alami, spontan, wajar, tidak dibuat-buat.
2. Penuh, tidak sepotong-sepotong, tidak ragu.
3. Sesuai dengan kata-kata.
4. Gunakan untuk penekanan pada poin penting,
5. Jangan berlebihan. Less is more!
6. The most important gesture: to SMILE!
7. Gerakan tubuh meliputi: ekspresi wajah, gerakan tangan, lengan, bahu, mulut atau bibir, gerakan hidung, kepala, badan, kaki.
8. Setiap gerakan mengandung tiga bagian: Pendekatan (The Approach) – Tubuh siap untuk bergerak; Gerakan (The Stroke) – gerakan tubuh itu sendiri; dan Kembali (The Return) – kembali ke posisi semula atau keadaan normal.
9. Variatif, jangan monoton. Misalnya terus-menerus mengepalkan jari tangan di atas.
10. Jangan melalukan gerakan tubuh yang tidak bermakna atau tidak mendukung pembicaraan seperti: memegang kerah baju, mempermainkan mike, meremas-remas jari, dan menggaruk-garuk kepala.
11. Makin besar jumlah hadirin, kian besar dan lambat gerakan tubuh yang kita lakukan. Jika kita berbicara di depan hadirin dalam jumlah kecil, atau di videoconferencing, atau di televisi, lakukan gerakan tubuh alakadarnya (smaller gestures).
Humor
1. Bumbu Public Speaking.
2. Use Natural Humor! Don’t try to be a stand up comedian!
3. Gunakan hentian (pause) sekadar memberikan kesempatan kepada pendengar untuk tertawa.
Teknik Humor
- Exaggeration –melebihkan sesuatu secara tidak proporsional. Misalnya, ungkapan “hujan lokal” bagi pembicara yang “menyemburkan” air liur.
- Parodi –meniru gaya suatu karya serius (lagu, pepatah, puisi) dengan penambahan agar lucu, misalnya mengubah lirik lagu dengan kata-kata baru bernada humor.
- Teknik belokan mendadak –membawa khalayak untuk meyakini bawa kita akan berbicara normal, namun tiba-tiba kita mengatakan sebaliknya atau tidak disangka-sangka pada akhir pembicaraan. Contoh: Saya mencintai seorang wanita, namun kami tidak bisa menikah karena keluarganya merasa keberatan. Saya tidak bisa apa-apa, karena keluarganya yang tidak setuju itu adalah suami dan anak-anaknya!; TV (baca: tivi) yang dibuat di Bandung dan bermerk “Parisj van Java” yaitu tipikir-pikir tidak ada. Wasalam.
Sumber: ASM. Romli, Lincah Menulis Pandai Bicara. Nuansa Bandung, 2003
Tips Menjadi Pembicara, Teknik Pidato
Tips Menjadi Pembicara, Teknik Pidato
Public Speaking dipahami sebagai berbicara di depan umum, seperti ceramah atau pidato dan presentasi. Public Speaking mencakup semua aktivitas berbicara (komunikasi lisan) di depan orang banyak, termasuk dalam rapat, membawakan acara (jadi MC), presentasi, diskusi, briefing, atau mengajar di kelas.
Presenter TV dan penyair radio termasuk melakukan PS dilihat dari sisi jumlah audience yang banyak (publik), meskipun tidak face to face.
Untuk menjadi “pembicara hebat” (great public speaker) dapat dilakukan dengan dua cara, yakni:
1. Practice –Latihan pidato di depan kawan-kawan, keluarga, bahkan anjing/kucing, atau siapa saja yang bisa mendengarkan; di depan cermin; menggunakan recorder.
2. Building Skill –membangun keterampilan PS dengan memahami teknik PS, meliputi persiapan dan penyampaian.
PERSIAPAN
Persiapan Mental
1. Rileks! Atasi gugup dengan menarik nafas panjang/dalam; menggerakan badan; berdiri tegak layaknya tentara berbaris dengan bahu dan dada yang tegap, lalu tersenyumlah!
2. Know the room! Jadikan seakan-akan ia kamar Anda sendiri.
3. Know the audience! Kenali karakteristik dan pandang mereka sebagai teman akrab.
4. Know your material! Anggaplah Anda yang paling tahu.
Persiapan Fisik
1. Pastikan kondisi badan dan suara fit, segar, dan normal
2. Kenakan pakaian yang serasi dengan susana acara.
3. Jangan memakan keju, mentega, atau minum susu, soda, teh, kopi, sekurang-kurangnya sejam sebelum tampil.
4. Jabatlah tangan Anda agar darah mengalir — membuat gerakan tangan Anda lebih alami saat berbicara di podium.
5. Jaga agar mulut dan tenggorokan Anda tetap basah. Siapkan selalu air mineral.
Persiapan Materi
1. Baca literatur dan cari sumber data sebanyak mungkin. Semakin banyak pengetahuan dan wawasan, Anda pun kian percaya diri.
2. Susun pointer atau outline.
3. Anda punya empat pilihan penguasaan materi: Membaca naskah (Reading from complete text), menggunakan catatan (Using notes) berupa garis besar materi (outline) –ini cara terbaik, menggunakan hapalan (memory) –pilihan terburuk karena komunikasi dengan audience berkurang, terutama soal kontak mata; dan menggunakan alat bantu visual sebagai catatan (Using Visual Aids as Notes).
PEMBUKAAN: TEKNIK MEMBUKA PIDATO
1. Start Low and Slow
2. Don’t apologize.
3. Teknik pembuka a.l. langsung menyebut pokok persoalan yang akan dibicarakan; mengajukan pertanyaan provokatif, menyatakan kutipan — teori, ungkapan, peristiwa, atau pepatah.
PENYAMPAIAN
1. Teknik pemaparan: deduktif – gagasan utama ke perincian; “teori” ke empiris; induktif – kasus ke kesimpulan; empiris ke “teori”; kronologis – Urutan peristiwa.
2. Audible –bicaralah agak keras agar cukup terdengar (Audible)
3. Clarity — ucapkan setiap kata dengan jelas (Clarity).
4. Gunakan kata berona (colorfull word) – yang melukiskan sikap, perasaan, keadaan. Misalnya, kata “terisak-isak” lebih berona daripada kata “menangis”; kata “matanya berbinar-binar” -> bergembira, dll.
5. Kalimat aktif (action words) lebih dinamis daripada kalimat pasif.
PENUTUP
1. Langsung tutup, ucapkan salam, jika materi pembicaraan sudah disampaikan atau waktu sudah habis.
2. Teknik penutup: menyimpulkan, menyatakan kembali gagasan utama dengan kalimat berbeda, mendorong audience untuk bertindak (Appeal for Action), kutipan sajak, kitab suci, pribahasa, atau ucapan ahli, memuji khalayak, dll. Misalnya, “saya akhiri pidato saya dengan pepatah, ‘marah lebih baik ketimbang putus asa’. Wasalam”.
Sumber: ASM. Romli, Lincah Menulis Pandai Bicara. Nuansa Bandung, 2003.
Teknik Menulis Berita Opini
Teknik Menulis Berita Opini
Berita opini (opinion
news) adalah berita yang berisi pendapat atau gagasan seseorang –biasanya para
pakar, cendekiawan, ahli, atau pejabat– mengenai suatu masalah atau peristiwa. Jadi, ringkasnya, berita opini
itu memberitakan opini narasumber.
Berikut ini rumus atau “format dasar” penulisan lead atau teras berita opini:
Contoh 1:Da’i kondang asal Bandung Ust. Romail Tiyya (WHO) mengajak umat Islam saling tolong dalam kebaikan, kebenaran, dan kesabaran sebagaimana diperintahkan Al-Quran (said WHAT). Ajakan itu dikemukakannya saat memberikan taushiyah dalam Tablig Akbar yang diselenggarakan Dompet Dhuafa Hong Kong di Tenda Putih Victoria Park Hong Kong (WHERE), Ahad (12/12) (WHEN).
Menurut Ust. Romail, saling tolong merupakan manifestasi keimanan dan keislaman seseorang. “Umat Islam itu bersaudara hingga wajib hukumnya saling tolong,” ujarnya (WHY) di depan ribuan orang yang memadati Tenda Putih Victoria Park di tengah cuaca dingin (HOW).
Dikatakannya, ….. “….,” ujarnya.
Ia menambahkan, ….. “…..,” katanya.
Contoh 2:
Umat Islam harus saling tolong dalam dalam kebaikan, kebenaran, dan kesabaran sebagaimana diperintahkan Al-Quran (WHAT). Hal itu dikemukakan Da’i kondang asal Bandung Ust. Romail Tiyya (WHO) saat memberikan taushiyah dalam Tablig Akbar yang diselenggarakan Dompet Dhuafa Hong Kong di Tenda Putih Victoria Park Hong Kong (WHERE), Ahad (12/12) (WHEN).
Menurut Ust. Romail, saling tolong merupakan manifestasi keimanan dan keislaman seseorang. “Umat Islam itu bersaudara hingga wajib hukumnya saling tolong,” ujarnya (WHY) di depan ribuan orang yang memadati Tenda Putih Victoria Park di tengah cuaca dingin (HOW).
Dikatakannya, ….. “….,” ujarnya.
Ia menambahkan, ….. “…..,” katanya.
Mudah ‘kan? Ayo, coba!
Liput deh tuh ceramah ustadz atau khotbah Jumat, misalnya. Selamat mencoba.
Sumber: ASM. Romli, Lincah Menulis Pandai Bicara. Nuansa Bandung, 2003
Sumber: ASM. Romli, Lincah Menulis Pandai Bicara. Nuansa Bandung, 2003
Langganan:
Postingan (Atom)




